BLOG

2.04.2011

ADAPTASI FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR


ADAPTASI FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR

I.         PERUBAHAN SISTEM PERNAFASAN
Perkembangan paru-paru

Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx, yang bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus. Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya bukti gerakan napas sepanjang trimester kedua dan ketiga (Varney’s, halaman 551). Ketidakmatangan paru-paru terutama akan mengurangi peluang kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia kehamilan 24 minggu, yang disebabkan oleh keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan system kapiler paru-paru dan tidak mencukupinya jumlah surfaktan.

Awal adanya nafas

Dua factor yang berperan pada rangsangan napas pertama bayi.
1.       Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat pernapasan di otak.
2.       Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan, yang merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis.

Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan. Jadi system-sistem harus berfungsi secara normal.

Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas

Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1.       Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2.       Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali

Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan yang cukup dan aliran darah ke paru-paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan dan jumlahnya akan meningkat sampai paru-paru matang sekitar 30-34 minggu kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan

Tanpa surfaktan, alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap pernapasan, yang menyebabkan sulit bernapas. Peningkatan kebutuhan energi ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Peningkatan kebutuhan energi ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan stress pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu.

Dari cairan menuju udara

Bayi cukup bulan, mempunyai cairan di dalam paru-parunya. Pada saat bayi melalui jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang dilahirkan melalui seksio sesaria kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada ini dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan napas pertama, udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus bayi baru lahir. Dengan sisa cairan di dalam paru-paru dikeluarkan dari paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah. Semua alveolus paru-paru akan berkembang terisi udara sesuai dengan perjalanan waktu.

Funsi system pernapasan dalam kaitanya dengan fungsi kardiovaskuler

Oksigenasi yang memadai merupakan factor yang sangat penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru  akan mengalami vasokonstriksi. Pengerutan pembuluh ini berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan, yang akan memperburuk hipoksia.

Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan menghilangkan cairan paru-paru. Peningkatan aliran darah ke paru-paru akan mendorong terjadinya peningkatan sirkulasi limfe dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
II.      PERUBAHAN SISTEM SIRKULASI

Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim, harus terjadi dua perubahan besar:
1.       Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2.       Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta.

Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh system pembuluh tubuh. Ingat hokum yang menyatakan bahwa darah akan mengalir pada daerah-daerah yang mempunyai resistensi yang kecil. Jadi perubahan-perubahan tekanan langsung berpengaruh pada aliran darah.
Oksigen menyebabkan system pembuluh  mengubah tekanan dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah. Hal ini terutama penting kalau kita ingt bahwa sebagian besar kematian dini bayi baru lahir berkaitan dengan oksigen (asfiksia).

Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam system pembuluh darah :
1.       Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium kanan menurun. Tekanan atrium kanan menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2.       Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada pernapasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru-paru (menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru). Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan. Dengan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kiri, foramen ovale secara fungsional akan menutup.

Vena umbilicus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara funsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung dalam 2-3 bulan

III.    PERUBAHAN SISTEM TERMOREGULASI

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pada saat bayi meninggalkan lingkungan rahim ibu yang hangat, bayi tersebut kemudian masuk ke dalam lingkungan ruang bersalin yang jauh lebih dingin. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, sehingga mendinginkan darah bayi.

Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh, dan mereka mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100 %. Untuk membakar lemak coklat, seorang bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh bayi baru lahir dan cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan, semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.

Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis. Oleh karena itu, upaya pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir.

Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360  C. Suhu normal pada neonatus adalah 36 5 – 370 C.
Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermia yang disebabkan oleh:
1.       Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
2.       Permukaan tubuh bayi relative lebih luas
3.       Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
4.       Bayi belum mampu mengatur possisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.

Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6 – 12 jam pertama setelah lahir. Misal: bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan disekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.

Gejala hipotermia:
1.       Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, letargis, hipotonus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.
2.       Pernapasan megap-megap dan lambat, denyut jantung menurun.
3.       Timbul sklerema : kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan.
4.       Muka bayi berwarna merah terang
5.       Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian.

Mekanisme terjadinya Hipotermia:
Hipotermia pada bayi baru lahir timbul karena penurunan suhu tubuh yang dapat terjadi melalui:
1.       Radiasi : Yaitu panas tubuh bayi memancar kelingkungan sekitar bayi yang lebih dingin, misal : BBL diletakkan ditempat yang dingin.
2.       Evaporasi : Yaitu cairan/air ketuban yang membasahi kulit bayi menguap, misal : BBL tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.
3.       Konduksi : Yaitu pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin, misal : popok/celana basah tidak langsung diganti.
4.       Konveksi : Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi, misal : BBL diletakkan dekat pintu/jendela terbuka.

IV.    PERUBAHAN SISTEM METABOLISME

Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2 jam).

Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
1.       Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir).
2.       Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)
3.       Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis).

Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenolisis). Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama dalam hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Seorang bayi yang mengalami hipotermia pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan persediaan glikogen dalam jam pertama kelahiran. Inilah sebabnya mengapa sangat penting menjaga semua bayi dalam keadaan hangat. Perhatikan bahwa keseimbangan glukosa  tidak sepenuhnya tercapai hingga 3-4 jam pertama pada bayi cukup bulan yang sehat. Jika semua persediaan digunakan pada jam pertama maka otak bayi dalam keadaan beresiko. Bayi baru lahir kurang bulan, lewat bulan, hambatan pertumbuhan dalam rahim dan distress janin merupakan resiko utama, karena simpanan energi berkurang atau digunakan sebelum lahir.
Gejala-gejala hipoglikemia bisa tidak jelas dan tidak khas meliputi : kejang-kejang halus, sianosis, apnu, tangis lemah, letargis, lunglai dan menolak makanan. Bidan harus selalu ingat bahwa hipoglikemia dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemia ialah kerusakan yang meluas di seluruh sel-sel otak.

V.       PERUBAHAN SISTEM GASTROINTESTINAL

Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Refleks gumoh dan refleks batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir.

Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esophagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas, kurang dari 30 cc untuk seorang bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memeberi ASI on demand.

Usus bayi masih belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat berbahaya kolon. Pada bayi baru lahir kurang efisien dalam mempertahankan air disbanding orang dewasa, sehingga menyebabkan diare yang lebih serius pada neonatus.


VI.    PERUBAHAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH

Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang didapat.

Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami meliputi:
1.       Perlindungan oleh kulit membrane mukosa.
2.       Fungsi saringan saluran napas.
3.       Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
4.       Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.

Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada bayi baru lahir sel-sel darah ini masih belum matang, artinya bayi baru lahir tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien.

Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. Bayi baru lahir yang lahir dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibody keseluruhan terhadap antigen asing masih belum bisa dilakukan sampai awal kehidupan anak. Salah satu tuges utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan system kekebalan tubuh.

Karena adanya defisiensi kekebalan alami dan didapat ini, bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Reaksi bayi baru lahir terhadap infeksi masih lemah dan tidak memadai. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan detekdi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN



FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN

                Sebenarnya pada setiap persalinan ada 5P (faktor) yang harus diperhatikan :
1.       Jalan lahir (passage)
2.       Janin (Passanger)
3.       Tenaga atau kekuatan (Power)
4.       Psikis ibu
5.       Penolong

I.        POWER
                Adalah kekuatan yang mendorong janin keluar. Kekuatan yang mendorong janin keluar dalam persalinan ialah : his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerjasama yang baik dan sempurna.
1.       HIS (kontraksi uterus)
1.       Adalah kontraksi uterus karena otot-otot polos rahim bekerja dengan baik dan sempurna dengan sifat-sifat:
-          Kontraksi simetris
-          Fundus dominant, kemudian diikuti
-          Relaksasi
2.       Pada saat kontraksi otot-otot rahim menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil mendorong janin dan kantong amnion kearah bawah rahim dan serviks.
3.       Sifat-sifat lainnya dari his adalah : (A) Involuntir (B) Intermitten (C) Terasa sakit (D) Terkoordinasi dan simetris (E) kadang-kadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisis, chemis dan psikis.
4.       Dalam melakukan observasi pada ibu bersalin, hal-hal yang harus diperhatikan dari his adalah:
-          Frekuensi his : adalah jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit atau per 10 menit.
-          Intensitas his : adalah kekuatan his (adekuat atau lemah)
-          Durasi (lama his) : adalah lamanya setiap his berlangsung dan ditentukan dengan detik, misalnya 50 detik.
-          Interval his : adalah jarak antara his satu dengan his berikutnya, misalnya his datang tiap 2 – 3 menit.
-          Datangnya his : apakah sering, teratur atau tidak.
5.       Pace maker adalah pusat koordinasi his yang berada di sudut tuba dimana gelombang his berasal. Dari sini gelombang his bergerak ke dalam dan ke bawah.
6.       Fundus dominant adalah kekuatan paling tinggi dari his yang sempurna berada di fundus uteri.
7.       Kekuatan his yang paling lemah berada pada segmen bawah rahim (SBR).
8.       Perubahan-perubahan akibat his:
-          Pada uterus dan serviks : Uterus teraba keras / padat karena kontraksi. Serviks tidak mempunyai otot-otot yang banyak, sehingga setiap muncul his maka terjadi pendataran (effacement) dan pembukaan (dilatasi) dari serviks.
-          Pada ibu : Rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim, terdapat pula kenaikan nadi dan tekanan darah.
-          Pada janin : Pertukaran oksigen pada sirkulasi utero – plasenter kurang sehingga timbul hipoksia janin. Denyut jantung janin melembat dan kurang jelas didengar karena adanya iskemia fisiologis. Kalau betul-betul terjadi hipoksia yang agak lama, misalnya pada kontraksi tetanik, maka terjadi gawat janin asfiksia dengan denyut jantung janin diatas 160 permenit dan tidak teratur.
9.       Pembagian his dan sifat-sifatnya:
-          His pendahuluan: his tidak kuat & tidak teratur namun menyebabkan keluarnya bloody show..
-          His pembukaan (Kala I) : menyebabkan pembukaan serviks, semakin kuat, teratur dan sakit.
-          His pengeluaran (Kala II) : Untuk mengeluarkan janin; sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinir dan lama ; Koordinasi bersama antara kontraksi otot perut, diafragma dan ligament.
-          His pelepasan uri (Kala III) : kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan plasenta.
-          His pengiring (Kala IV) : kontraksi lemah, masih sedikit nyeri (merian), terjadi pengecilan rahim dalam beberapa jam atau hari.

2.       Tenaga mengejan
a.       Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang mendorong anak keluar selain his, terutama disebabkan oleh kontraksi otot-otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intraabdominal.
b.       Tenaga ini serupa dengan tenaga mengejan waktu kita buang air besar tapi jauh lebih kuat lagi.
c.        Saat kepala sampai pada dasar panggul, timbul suatu reflek yang mengakibatkan ibu menutup glottisnya, mengkontraksikan otot-otot perutnya dan menekan diafragmanya kebawah.
d.       Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil, bila pembukaan sudah lengkap dan paling efektif sewaktu ada his.
e.        Tanpa tenaga mengejan ini anak tidak dapat lahir, misalnya pada penderita yang lumpuh otot-otot perutnya, persalinan harus dibantu dengan forceps
f.        Tenaga mengejan ini juga melahirkan placenta setelah placenta lepas dari dinding rahim.


II.      PASSANGER
Faktor lain yang berpengaruh terhadap persalinan adalah faktor janin, yang meliputi sikap janin, letak janin, presentasi janin, bagian terbawah,  dan posisi janin.
1.       Sikap (Habitus) :
Menunjukkan hubungan bagian-bagian janin dengan sumbu janin, biasanya terhadap tulang punggungnya. Janin umumnya dalam sikap fleksi dimana kepala, tulang punggung, dan kaki dalam keadaan fleksi, lengan bersilang di dada.
2.       Letak (Situs):
Adalah bagaimana sumbu janin berada terhadap sumbu ibu misalnya Letak Lintang dimana sumbu janin tegak lurus pada sumbu ibu. Letak membujur dimana sumbu janin sejajar dengan sumbu ibu, ini bisa letak kepala atau letak sungsang.
Ø  Letak membujur (longitudinal):
·   Letak Kepala (97%) : (1)Letak fleksi = LBK (95,5%), (2)Letak defleksi : Letak puncak kepala, Letak dahi & letak muka (1,5%)
·   Letak sungsang = letak bokong (2,5 – 3 %): L. Bokong sempurna (complete breech), L. Bokong (Frank breech), L. Bokong tidak sempurna (Incomplete breech)
Ø  Letak lintang (Tarnsverse lie) : (0,5 – 2%)
Ø  Letak miring (Oblique lie)
·   Letak kepala mengolak
·   Letak bokong mengolak
3.       Presentasi:
Dipakai untuk menentukan bagian janin yang ada di bagian bawah rahim yang dijumpai pada palpasi atau pada pemeriksaan dalam. Misalnya presentasi kepala, presentasi bokong, presentasi bahu dan lain-lain.
4.       Bagian terbawah janin:
Sama dengan presentasi hanya lebih diperjelas istilahnya.
5.       Posisi janin
Ø  Untuk indikator atau menetapkan arah bagian terbawah janin apakah sebelah kanan, kiri, depan atau belakang terhadap sumbu ibu (materal – pelvis). Misalnya pada letak belakang kepala (LBK) ubun-ubun kecil (uuk) kiri depan, uuk kanan belakang.
Ø  Untuk menentukan presentasi dan posisi janin maka harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
·   Bagian janinapa yang terbawah?
·   Di mana bagian terbawah tersebut?
·   Apa indikatornya?
Ø  Ada 6 variasi dari penunjuk arah (indikator) dari bagian terbawah janin :
·   Letak Belakang Kepala (LBK)
-          Indikator : ubun-ubun kecil (uuk)
-          Variasi posisi :
1.       Ubun-ubun kecil kiri depan                                   :       uuk ki-dep
2.       Ubun-ubun kecil kiri belakang                              :       uuk.ki-bel
3.       Ubun-ubun kecil melintang kiri                            :       uuk.mel.ki
4.       Ubun-ubun kecil kanan depan                             :       uu.ka-dep
5.       Ubun-ubun kecil kanan belakang                        :       uuk.ka-bel
6.       Ubun-ubun kecil melintang kanan                      :       uuk.mel-ka
·   Presentasi dahi
-          Indikator : teraba dahi dan ubun-ubun besar       (uub)
-          Variasi posisi :
1.   Ubun-ubun besar kiri depan                                   :       uub.ki-dep
2.   Ubun-ubun besar kiri belakang                              :       uub.bi-bel
3.   Ubun-ubun besar melintang kiri                             :       uub.mel-ki
4.   Ubun-ubun besar kanan depan                             :       uub.ka-dep
5.   Ubun-ubun besar kanan belakang                        :       uub.ka-bel
6.   Ubun-ubun besar melintang kanan                       :       uub.mel-ka
·   Presentasi muka
-          Indikator : dagu (meto)
-          Variasi posisi :
1.       Dagu kiri depan                                                       :       d.ki-dep
2.       Dagu kiri belakang                                                  :       d.ki-bel
3.       Dagu melintang kiri                                                 :       d.mel-ki
4.       Dagu kanan depan                                                 :       d.ka-dep
5.       Dagu kanan belakang                                            :       d.ka-bel
6.       Dagu melintang kanan                                           :       d.mel-ka
·   Presentasi bokong
-           Indikator adalah sacrum
-           Variasi posisi adalah:
1.       Sakrum kiri depan                                                   :       s.ki-dep
2.       Sakrum kanan depan                                             :       s.ka-dep
3.       Sakrum kanan belakang                                       ;       s.ka-bel
4.       Sakrum melintang kanan                                      :       s.mel-ka
·   Letak kintang
-          Menurut posisi kepala :
Kepala kiri                                                                :       LLi I
Kepala di kanan                                                      :       LLi II
-          Menurut arah punggung
1.       Punggung depan (dorso-anterior)                         :       PD
2.       Punggung belakang (dorso-posterior)                  :       PB
3.       Punggung atas (dorso-superior)                            :       PA
4.       Punggung bawah (dorso-inferior)                         :       PI
-          Presentasi bahu (skapula) :
1.       Bahu kanan                                                             :       Bh.ka.
2.       Bahu kiri                                                                   :       Bh.ki.
-          Tangan menumbang :
1.       Tentukan apakah : tangan kiri                             :       ta-ki
                                     Tangan kanan                    :       ta-ka
2.       Indikator adalah ketiak (axilla)
- Ketiak menutup / membuka ke kanan                           
               - Ketiak menutup / membuka ke kiri


III.         PASSAGE
Passage atau faktor jalan lahir dibagi atas:
1.       Bagian  keras Tulang-tulang panggul (Rangka panggul).
2.       Bagian lunak : Otot-otot, jaringan-jaringan dan ligament-ligamen.

Ø  RANGKA PANGGUL
-          Tulang panggul
1.       Os coxae : os ilium, os ischium, os pubis
2.       Os sacrum = promontorium
3.       Os Coccygis
-          Artikulasi
1.       Simfisis pubis, di depan pertemuan os pubis
2.       Artikulasi sakro-iliaka yang menghubungkan os sacrum & os ilium
3.       Artikulasi sakro-koksigium yang menghubungkan os sacrum dan  koksigiu
-          Ruang panggul
1.       Pelvis mayor (False pelvis)
2.       Pelvis minor (True pelvis)
Pelvis mayor terletak di atas linea terminalis yang di bawahnya disebut pelvis minor.
-          Pintu panggul
1.       Pintu atas panggul (PAP) = Inlet, dibatasi oleh linea terminalis (linea inominata)
2.       Ruang tengah panggul (RTP) kira-kira pada spina ischiadika, disebut midlet
3.       Pintu bawah panggul (PBP) dibatasi simfisis dan arkus pubis, disebut outlet.
4.       Ruang panggul yang sebenarnya berada antara inlet dan outlet
-          Sumbu panggul
Adalah garis yang menghubungkan titik-titik tengah ruang panggul yang melengkung ke depan (sumbu carus).
-          Bidang-bidang
1.       Bidang Hodge I : jarak antara promontorium dan pinggir atas simfisis, sejajar dengan PAP.
2.       Bidang Hodge II : sejajar dengan PAP, melewati pinggir bawah simfisis.
3.       Bidang Hodge III : sejajar dengan PAP, melewati Spina ischiadika
4.       Bidang Hodge IV : sejajar dengan PAP, melewati ujung coccygeus.
-          Ukuran-ukuran panggul
1.       Alat pengukur ukuran panggul :
-    pita meter
-    jangka panggul : Martin, Oseander, Collin dan Baudeloque
-    pelvimetri klinis dengan periksa dalam
-    pelvimetri rontenologis dibuat oleh ahli radiology dan hasilnya diinterpretasikan oleh ahli kebidanan
2. Ukuran-ukuran panggul luar
-    DS : Distansia Spinarum, yaitu jarak antara kedua spina iliaka anterior superior (24-26 cm)
-    DC : Distansia Cristarum, yaitu jarak antara kedua crista iliaka kanan dan kiri (28-30 cm)
-    CE : Conjugata Eksterna (Boudeloque) 18-20 cm.
-    CD : Conjugata Diagonalis, dengan periksa dalam 12,5 cm)
-    DT : Distansia Tuberum, dengan menggunakan jangka Oseander (10,5 cm).
3.       Ukuran-ukuran panggul dalam
a.       Pintu atas panggul : Merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium, line inominata dan pinggir atas simfisis pubis.
-    Conjugata Vera : dengan periksa dalam diperoleh conjugate diagonalis 11 cm – 1,5 cm
-    Conjugata Transversa 12-13 cm
-    Conjugata oblique 13 cm
-    Conjugata obstetrica adalah jarak bagian tengah simfisis ke promontorium
a.       Ruang tengah panggul
-    Bidang terluas ukurannya 13 x 12,5 cm
-    Bidang sempit ukurannya 11,5 x 11 cm
-    Karak antar spina ischiadika 11 cm
a.       Pintu bawah panggul
-    Ukuran antero-posterior 10-11 cm
-    Ukuran melintang 10,5 cm
-    Arcus pubis membentuk sudut 900 lebih
-          Inklinasi pelvis (miring panggul) :
Adalah sudut yang dibentuk dengan horizon bila wanita berdiri tegak dengan inlet 55-60 derajat.
-          Jenis panggul (menurut Caldwell & Moloy, 1933)
Didasarkan pada cirri-ciri bentuk PAP, ada 4 bentuk dasar panggul:
·         Ginekoid : paling ideal, bulat 45%
·         Android : panggul pria, segitiga 15%
·         Antropoid : agak lonjong seperti telur 35%
·         Platipeloid : picak, menyempit arah muka belakang 5%
Terkadang dijumpai bentuk panggul kombinasi dari keempat bentuk klasik tersebut, misalnya:
·         Jenis gineko-android
·         Jenis gineko-antropoid
·         Dan kombinasi-kombinasi lainnya (ada 14 jenis)


Ø  JALAN LAHIR LUNAK
-          Jalan lahir lunak yang berperan dalam persalinan adalah SBR, serviks uteri dan vagina. Disamping itu otot-otot, jaringan ikat dan ligament yang menyokong alat-alat urogenetal juga sangat berperan dalam persalinan.
-          Dasar panggul (pelvic floor) terdiri dari:
·         Diafragma pelvis : adalah bagian dalam yang terdiri dari M. Levator Ani & M. Pubococcygeus, M. Ileococcygeus & M. Ischiococcygeus
·         Diafragma urogenetal terdiri dari perineal fasciae otot-otot superficial.

diposkan bidan helse nopiana